Masjid Tidak Pernah Bertanya Masa Lalu Kita
Pernah
nggak, berdiri di depan masjid…
lalu langkah kita berhenti sebentar?
Bukan
karena pintunya tertutup.
Bukan juga karena adzannya belum berkumandang.
Tapi karena ada suara kecil di dalam hati:
“Gue pantas
nggak ya masuk?”
Entah
karena masa lalu.
Entah karena kebiasaan yang belum bisa ditinggalkan.
Atau karena merasa iman masih jauh dari kata baik.
Kalau
perasaan itu pernah muncul, tenang.
Kamu nggak sendirian.
Dan ada
satu hal penting yang sering kita lupa:
Masjid tidak pernah bertanya masa lalu kita.
Masjid Tidak Menyimpan Catatan Dosa
Masjid
tidak punya daftar kesalahan.
Tidak ada petugas yang menanyai:
- “Kamu terakhir sholat kapan?”
- “Dulu kamu orang baik atau bukan?”
- “Kamu pantas duduk di saf ini atau tidak?”
Masjid
hanya melakukan satu hal:
membuka pintunya.
Setiap
waktu.
Untuk siapa saja.
Kita yang Sering Terlalu Keras pada Diri Sendiri
Kadang yang
membuat kita menjauh dari masjid
bukan karena masjidnya menolak,
tapi karena kita sendiri yang merasa tidak layak.
Kita
membandingkan diri dengan orang lain.
Melihat yang rajin, yang konsisten, yang terlihat lebih alim.
Lalu kita
menarik kesimpulan sendiri:
“Belum waktunya gue ke masjid.”
Padahal,
siapa yang menentukan “waktu itu”?
Bukan kita.
Dan jelas bukan masjid.
Allah Membuka Pintu Sebelum Kita Siap
Dalam
Islam, pintu taubat tidak menunggu kita sempurna.
Justru sebaliknya.
Allah
membuka jalan dulu,
baru kita belajar melangkah.
Masjid
adalah salah satu jalan itu.
Tempat orang datang bukan karena sudah suci,
tapi karena ingin dibersihkan.
Kalau kita
menunggu diri ini rapi dulu baru ke masjid,
bisa jadi kita nggak akan pernah berangkat.
Masjid Itu Rumah, Bukan Ruang Sidang
Rumah tidak
menilai penghuninya.
Rumah hanya menyediakan tempat pulang.
Masjid pun
begitu.
Datang
dengan hati lelah — boleh.
Datang dengan iman yang naik turun — wajar.
Datang hanya duduk diam — tidak apa-apa.
Masjid
tidak menuntut penampilan.
Tidak meminta penjelasan.
Tidak menagih cerita masa lalu.
Masjid
hanya ingin satu hal sederhana:
kehadiran kita.
Langkah Kecil Lebih Baik dari Jauh Selamanya
Tidak harus
langsung berubah drastis.
Tidak perlu janji besar.
Kadang
cukup:
- Datang sholat Maghrib sekali
- Duduk sebentar setelah Isya
- Mendengarkan adzan tanpa menutup telinga
Langkah
kecil itu mungkin terlihat sepele,
tapi seringkali menjadi awal perubahan besar.
Jika Hari Ini Kamu Membaca Ini…
Mungkin ini
bukan kebetulan.
Mungkin ini
pengingat halus
bahwa masjid di sekitar kita
tidak pernah menanyakan siapa kita kemarin.
Masjid
hanya menunggu kita hari ini.
Dan kalau
suatu saat langkah itu terasa berat,
ingat satu kalimat ini baik-baik:
Masjid
tidak pernah bertanya masa lalu kita.
Ia hanya membuka pintu untuk masa depan.

Posting Komentar untuk "Masjid Tidak Pernah Bertanya Masa Lalu Kita"